not to cure (yet)

Beberapa hari yang lalu, saya mendengarkan radio (I like to listen radio!). Acaranya seperti biasa, semacam talk show gitu. Dan temanya adalah tentang alzheimer. Jadi radio ini mengundang dokter dari neuroscience untuk membahas tentang penyakit pikun. Dokter neuroscience ini bercerita, “Inilah salah satu alasan mengapa saya belajar tentang neurosciece. Karena saya dari keturunan alzheimer. Benar sih, keluarga saya hidupnya lama… sampai umur 90-100 tahun. Tapi beliau-beliau mengidap alzheimer, jadi sengsara juga hidupnya.”

Saya sebenarnya banyak mengetahui tentang alzheimer ini dari drama kedokteran serial Grey’s Anatomy. Karena salah satu tokoh tersebut melakukan clinical trial untuk alzheimer, dan memang ini high experimental. Kalau alzheimer mereka sudah parah, biasanya cuma dikasih obat placebo aja. Sampai saat ini, alzheimer belum disembuhkan, baik dengan medication atau surgery. Dan kalo uda kena azheimer, serem loh. Jadi katanya otak akan mengalami kerusakan dari bagian luar ke dalam. Bagian luar otak itu berhubungan dengan memory. Makanya ciri-ciri alzheimer yang paling ketara adalah pikun. Kalau sudah parah, akan hilang kemampuan misalnya jalan, ke toilet, dan lama-lama terjadi organ failure.. itu kalo kerusakan otaknya sudah di bagian dalam. Serem kan.

Kemudian, saya jadi berpikir.

Di negara-negara maju seperti US, japan, atau yang lainnya… mereka punya data berapa persen yang terkena alzheimer… atau berapa persen yang kena kanker. Karena peralatan medicine mereka canggih, hampir semua orang bisa menjangkau biaya pengobatan (karena asuransi sangat membantu). Sedang di negara tidak maju… yang asuransinya susah… yang biaya pengobatan mahal… mana bisa pergi ke rumah sakit? Apalagi mau check up MRI, CT-scan. Maka dari itu, mereka tidak tahu kalau sebenarnya terkena alzheimer atau kanker. Dan tau-tau aja meninggal. Atau kalau orang sudah tua dan benar-benar tidak mengenal siapa-siapa, mereka mungkin menganggap wajar karena faktor usia… tapi, bisa jadi ternyata dia mengidap alzheimer (who knows?). Jadi, pihak kedokteran juga tidak punya data tentang berapa persen kena kanker atau alzheimer. Dan anggap aja, jarang yang mengidap penyakit-penyakit tersebut.

Jadi, jika penyakit ini ada sejak jaman dahulu kala… dulu, sewaktu peralatan kedokteran belum canggih… belum ada CT-scan, belum ada MRI… bahkan jaman dulu ketika peradaban islam belum berjaya, belum mengenal kedokteran… mungkin mereka anggap penyakit kutukan kali ya, hehe. Tiba-tiba orang meninggal aja. Kemudian manusia sedikit demi sedikit mengenal ilmu kedokteran… dan akhirnya baru tau penyakit apa ini. Ini hanya menemukan penyebab penyakit, mengkarakterisasi penyakit. And it needs time. Belum pada bagaimana menyembuhkan penyakit. Kemudian seiring berjalannya waktu, setelah penyakit ketemu… barulah ilmu kedokteran berpikir, how to cure this disease. Dan itu akan butuh waktu yang lama juga, butuh clinical trials tentunya.

My point is, dunia kedokteran sampai saat ini adalah…. meski kita tau penyakit apa ini…. kadang kita masih belum menemukan bagaimana mengobati penyakit tersebut. Misalnya alzheimer, apa ada yang sudah bisa mengobati alzheimer? Belum. Semua masih dalam tahap research yang still on going.

Jadi, masih banyaaak rahasia science yang belum kita tahu. Masih banyak penyakit yang belum bisa disembuhkan. And in medical science, they need people who could solve this problem. They need us.

~ Adrianna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s