How to treat phd student

Hari sabtu ini… seperti biasa, jika gak ada agenda pergi-pergi, ato agenda lazy-lazy di rumah, saya sudah berada di lab. Entah kenapa, datang ke lab pas weekend biasanya lebih pagi dari hari biasanya. Mungkin karena sering dibarengi dengan niatan lari pagi? Karena biasanya setelah lari pagi saya langsung nyambung mengerjakan sesuatu di lab. Biasanya mr. vampire masih ada di lab sampai jam 7 atau jam 8 pagi dia baru pulang. Biasanya setelah lari pagi dan datang ke lab, dia masih ada lab… tapi akhir-akhir ini, saya sengaja datang setelah dia pulang.

Seringnya, hari Sabtu sensei datang ke lab. Karena sensei adalah direktur, beliau selalu sibuk meeting atau urusan birokrasi institute pada saat weekday. Jadi, weekend seperti sabtu gini, beliau datang ke lab untuk… biasanya nanam jagung buat eksperimen, atau baca-baca jurnal, pokoknya yang berhubungan dengan urusan eksperimen. Yep, sensei likes to do experiment! Ini memang sensei aja yang extraordinary, karena sensei dari univ lain belum tentu seperti sensei saya, hehe. Jadi jangan menggeneralisasi semua sensei di Jepang seperti sensei saya ya.

Bukan hanya itu, kemarin pun karena sensei gak ada meeting, sensei mengajak anak B4 (undergrad 4th year) untuk eksperimen bareng! Bener-bener ikut eksperimen juga, kayak asisten research gitu. Bayangin termasuk professor senior (karena 2 tahun lagi retired), direktur institute, masih terjun langsung eksperimen di lab! See, semakin yakin kan kalo sensei saya aja yang extraordinary, haha. Orang-orang di institute ini juga surprised kok kalo sensei kerja di lab. Sensei saya di lab crystal aja menyerahkan saya ke senior postdoc untuk mengajari saya urusan crystallography. Tapi kalo di lab sensei yang ini, kami tidak punya senior. Semua langsung dari sensei. Diskusi, langsung ke sensei. Tentang method experiment, semua sensei yang mengajarkan.

Oiya, saya mau cerita sedikit tentang eksperimen sensei kemarin dengan anak B4. Meja eksperimen saya, berada di belakang meja eksperimen mereka, jadi kadang saya pun mengamati apa yang mereka lakukan, haha. Saya jadi ingat tahun kemarin, sewaktu saya berada di posisi anak B4 itu, sebagian besar eksperimen bareng dengan sensei. Sensei tahu saya belum pernah kerja dengan protein things, belum pernah melakukan sebelumnya. Dulu saya selalu kerja dengan DNA dan RNA, dan itu beda dengan yang saya lakukan sekarang. Protein saya pun unstable, jadi harus kerja cepet. Beda dengan DNA, kerja dengan DNA lebih gampang karena DNA stabil di suhu ruang.

Kembali lagi dengan cerita sensei dengan anak B4. Waktu itu mereka melakukan centrifuge, lalu di mesin centrifuge untuk setting kecepatan, ada tulisan G (gravitasi). Sedang dalam protocol tulisannya rpm. Sensei sih bisa mengira-ngira berapa G yang harus disetting, jadi langsung saja sensei yang setting. Anak B4 itu bingung, dan sensei tau.

Sensei langsung bertanya, “Tau gak beda G dan rpm?”

Nah, dulu juga pas saya eksperimen dengan sensei, sensei pernah bertanya hal yang sama. Dan jawaban saya tidak tahu, haha. Jawaban sensei adalah, “Ya uda kamu cari sendiri apa bedanya. Ini adalah teori fisika dasar.”

Lalu… yang kemarin ini, anak B4 juga  menjawab hal yang sama dengan saya. Tapi jawaban sensei adalah… “Jadi beda G dan rpm adalah….” Sensei menjelaskannya! Hahaha.

Yeah, as I told you. Inilah bedanya sensei memperlakukan anak phD dan anak undergrad. Sometimes, we felt envy, but sensei was correct. He should treat us like this. Because we are supposed to know the theory of basic science, biology, physic, chemistry, math… because we are the highest level of student, phD. If, someday, master student or undergrad student asks what the difference between G and rpm, we could explain… at least, we understand.

Ini hanyalah salah satu contoh.

Contoh lain, saat berdiskusi dengan sensei. Ya, momen hari sabtu ini biasanya saya juga pakai untuk diskusi dengan sensei. Dan sensei mau diajak diskusi kalau hari sabtu, hehe. Saya sengaja datang pagi, karena meski weekend sensei biasanya pun datang pagi…dan siangnya sensei pulang. Jadi kalau memang niat diskusi dengan sensei, harus datang sebelum sensei keburu pulang.

Hari ini saya diskusi tentang hasil eksperimen saya, dan sensei masih berkomentar, “Penjelasanmu masih complicated. Tidak sistematis.” Lalu sensei mengambil kertas dan menuliskan apa yang saya sampaikan. Beliau bikin summary kasaran dengan membuat kolom-kolom dan memasukkan data-data saya. “Nah, dari tulisan yang saya buat ini, apa yang dapat kamu simpulkan?”

Hmmm…

Setelah sensei memberikan clue-clue, mengarahkan arah pembicaraan kami… akhirnya saya menemukan point-nya!

“That’s the point!” sensei said.

Dan diakhir diskusi kami, sensei kembali mengingatkan saya, “Lain kali, kamu harus bisa membuat conclusion dan hipotesis. Itulah phD student.”

Ya, lagi-lagi… sensei was correct. Ini adalah scientific thinking. Diskusi antara sensei dan phD student itu… bukan hanya phD student yang memberikan report kepada sensei tentang eksperimen yang dilakukan. Tetapi harus juga saling bertukar ide. Student memberikan conclusion dan hipotesis, sensei yang memutuskan cara berpikir kami benar atau salah. Itu yang sensei ajarkan pada saya. Mengasah cara berpikir saya, mengajari saya untuk menemukan ide-ide yang hebat, being an extraordinary person.

Bengkyou gambarimasu, sensei!

~ Adrianna

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s