The crystallographer club

Beberapa hari setelah saya mengalami demam yang diagnose-nya ada indikasi inflamasi di bagian liver… saya mengikuti kompetisi softball di Kobe! Hehehe.

Ceritanya, setiap tahun lab-lab crystallography di Osaka dan Kobe mengadakan… yang bahasa Jepangnya, softo bo-ru taikai (=softball tournament). Jadi tahun ini diadakan di Kobe, dan tahun depan akan diadakan di Osaka. Tujuannya, standar aja sih… untuk saling mengenal crystallographer di Japan, saling share tentang pengalaman-pengalaman research yang berhubungan dengan crystallography. Dan saya…. I’m the only foreigner there, hehe. Meski crystallography adalah bidang ilmu yang sedang ngetrend dan di Japan yang dominan melakukan research ini adalah orang-orang Japan itu sendiri, tapi saya yakin ada beberapa foreigner lain yang memiliki kondisi sama dengan saya, belajar crystallography.

20130922-165639.jpg   20130922-165749.jpg

It was first time for me… to play softball, and to know how is softball played. Sejak dulu, saya tidak suka softball. Jadi saya tidak mau tau juga aturan permainan softball atau kompetisi softball di TV. I couldn’t find the interesting part. Kadang saya terpaksa mencoba practice untuk memukul bola (=batting) dengan teman saya untuk masuk ke… semacam box softball batting dan ada mesin pitching yang melempar bola ke arah kita secara otomatis (bisa dibayangkan gak? hehe). Jadi kemarin itu, saya terpaksa mempelajari softball dari beberapa games. Dan akhirnya saya mencoba menjadi pitcher (=pelempar bola) karena kata mereka, I was good picther (huahaha… ngeliat dari mana orang-orang itu?). Saya baru tahu, jika kita melempar bola dengan tangan kanan, kita harus menangkap bola dengan tangan kiri dengan sarung softball tentu saja. Dan… akhir kata, lab saya… jatuh pada juara 4, hehe. Harusnya sih bisa berkesempatan juara 3, tapi kami jatuh pada perebutan juara 3, haha. Strategi lab saya itu lucu. Postdoc yang usianya 2 tahun di atas saya yang jadi kapten tim kami. Setting-nya, 1 cewe yang bagian nangkap bola dan pitcher dikasihkan pada cewe. Yang cowo, bagian nangkap bola dan nyetak home-run. Maka dari itu saya bisa kebagian jadi pitcher, haha. But, it was fun.

20130922-165832.jpg  20130922-165904.jpg

Setelahnya, kami semua di ajak makan malam bersama di salah satu restoran mahal di Kobe… sambil penyerahan sertifikat pemenang pada kompetisi softball sih, hehe. Di sana, baru kami bisa mengobrol saling mengenal sesama crystallographer. Ada yang bilang, “Dulu sewaktu alat-alat gak secanggih sekarang, data-data yang kita dapatkan membutuhkan waktu berhari-hari prosesnya…kami dulu menunggunya sambil bermain softball. Sekarang, dalam hitungan beberapa jam kita sudah bisa dapat datanya. Jadi kita selalu sibuk, dan uda gak sempat lagi main softball kayak dulu. Iya gak?” Haha, true. Semakin canggih alat, kita semakin dibuat sibuk. No time.
Di sana, saya bertemu dengan seorang professor crystallography. Beliau salah satu sensei dalam program jalur penerimaan foreigner student. Salah satu postdoc yang kenal dengan saya, mengenalkannya pada saya. Akhirnya kami mengobrol, dalam bahasa Japan. Awalnya sensei tersebut bertanya, “Di Indonesia belum ada X-Ray crystallography kan?” Saya jawab belum ada, dan kalaupun orang Indonesia mau melakukan crystallography, harus ke Singapore, itu yang paling dekat. Dan sensei tersebut menjawab, “Bagus!” sambil menepuk pundak saya. “Jadi program ini, selain kami menerima student dari luar, kami juga ada program menyerahkan semacam omiyage lah, pada foreigner student yang lulus dan balik ke nagara asalnya. Tapi gak semua foreigner student yang dapat, kami tentu saya menyeleksinya, dan kalau bisa sih yang bisa japanese, untuk memudahkan berkomunikasi. Misalnya kalo kamu lulus, di Indonesia kan belum ada mesin X-ray crystallography, kami bisa berikan mesin x-ray kalo kamu lulus untuk dibawa pulang ke Indonesia. Tatoeba-ne (=misalkan).” Saya pun dengan menjawab, “Arigatougozaimasu… benkyou gambarimasu.” Dan sensei membalas, “Zehi.”

Itulah yang ayah saya lakukan dulu. Bisa dibilang, ayah saya adalah salah satu perintis molecular biology di Indonesia. Di Indonesia looh! Sensei ayah dulu, banyak mengirimkan alat-alat laboratorium for free pada ayah saya. Ya, ayah saya adalah salah satu student kesayangan beliau, haha. Sensei paham, ayah saya berjuang sebagai perintis di Indonesia, membangun research center di salah satu universitas dimana ayah bekerja. Dan… jaman berlalu. Sekarang giliran saya yang harus berjuang seperti yang ayah saya telah lakukan. Berjuang untuk science, di Indonesia🙂

~ Adrianna

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s