Absent

Today.. I am staying at home.

People (at lab) said it’s better if I take some rest for a while. Dan saya terpaksa setuju karena tidak sanggup menghadapi ke-khawatiran mereka, hehe. Jika saya di lab, at least, setiap 2 jam sekali pasti tanya, “Daijoubu? Sindou suru? Muri shinai de..” Dan jika saya benar-benar feeling sindou (=hard) , they’re like blame me.. seolah-olah berkata, “Tuuuh kaaan”. Hoho. Jadi saya terpaksa berada di rumah, as they suggested for me. Dan gak bisa pergi kemana-mana juga, padahal Japan lagi libur panjang.. dari sabtu sampai senin.

Selama saya di rumah.. saya bersih-bersih rumah, laundry, bersih-bersih kamar mandi juga, nyoba-nyoba masak
untuk menu vegetarian (saya mulai serius dengan vegan), nulis-nulis apapun.. Sometimes lay on my bed and playing internet. Ya begitu lah. Padahal banyaaakk sekali yang harus saya lakukan di lab.

Kalau sakit gini.. biasanya okasan (=ibu) saya kuatir. Tapi otosan (=ayah) tetep stay cool, meski sebenernya kuatir juga, hehe. Kata okasan, beliau paling gak bisa lihat saya fever, karena fever saya menyeramkan, hehe. Tapi sejak saya tinggal sendirian di Japan, okasan terlihat seperti kuatirnya berkurang. Meski katanya kuatir juga, hehe.

Ya, saya bukan saya yang beberapa tahun lalu. I am grown woman. Saya pun telah melewati surgery di negara lain tanpa orang tua, dan saya meyakinkan mereka, “Everything will be alright. It’s just easy surgery, and I will be back to the normal again”. Dan di depan saya, orang tua saya berusaha percaya dengan apa yang saya katakan. Meski kadang, saya menyesal dengan kata-kata saya, karena saat membuka mata saya dari keadaan unconscious, setelah surgery, tidak ada keluarga yang menemani saya untuk berjuang dari rasa sakit karena jahitan dan fever post-op (=post operasi). Waktu terasa berjalan lamaaa sekali. Saya merasa, setiap saya terbangun, saya selalu memanggil nurse untuk meminta pain killer sampai akhirnya nurse bilang kalau tidak boleh dikasih pain killer lagi, haha. Belum lagi harus berjuang tidur karena saya berada bersama orang yang menjalani chemotherapy. Jadi mereka setiap beberapa saat sekali mengigau, atau muntah-muntah, begitulah.

Dan akhirnya pada suatu malam okasan kirim pesan, “okasan kok jadi kepikiran sama kamu ya.. kamu jauh dari orang tua, kalo sakit kamu harus mengerjakan semuanya sendiri. Sebenarnya okasan ya kasian sama kamu.”

Huaa.. Ternyata feeling okasan sama seperti sayaa.

Tapi saya membalas, “Ya mau gimana lagi. Namanya juga jauh dari orang tua, ya semuanya harus dikerjakan sendirian.”

Hehehe.
Probably, if they know me fine, they will not worry. But, I am not pretending. I will make sure that everything is really fine.

~Adrianna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s