Hello september

Hi there!

Ohisashiburi… Long time not see!

Terakhir ngeblog, sekitar sebulan lalu. And… honestly, I was escaping, hehe. Beberapa waktu lalu, saya menikmati nulis di buku saya lagi. Saya sudah melalui banyak hal beberapa saat yang lalu. Saya sudah mengambil jatah liburan saya ke Fukuoka (even literally, people said it was not summer holiday.. it was just weekend), lalu researcher Indonesia datang ke lab untuk research collaboration, lalu saya menerima scholarship baru bulan depan, lalu saya sudah melalui presentasi annual progress report di lab crystal (as I said before). Oiya, saya juga dapat summer postcard dari mr. vampire! hehehe.

Tak terasa saya mengakhiri musim panas tahun ini dengan… baik. It wasn’t perfect, but it meant to be. Dan sudah satu setengah tahun saya tinggal di Japan. It looks fast, but it wasn’t fast as you thought. I mean, if you count how many things happened in the previous… there were many. Or if you compare between you’re in the last year and now, you can see the difference, not same… and it is changed. The theory says changed needs time. So, one year and half wasn’t fast.

Menurut kalender akademik di Japan, di bulan September, para pelajar memasuki autumn semester. Banyak toko-toko stationery menjual berbagai bentuk book planner mulai bulan September 2013 sampai December 2014. So, new plan.. new mind, hehe. Mungkin, mengambil jatah iburan di musim panas itu memang perlu, dengan harapan semester baru ini pikiran kita lebih fresh dan dapat bekerja maksimal.

So, in this new semester… I will start over to write here again.

Rencananya, saya akan mengawali semester baru saya dengan plan-paln baru pada eksperimen saya. Banyak ide baru yang harus saya realisasikan. Of course, quantity studying is also increased. Tapi faktanya… saya mengawalinya dengan… fever. Oh, God. Dan lucunya, fever yang saya alami tidak tahu asalnya dari mana. Yang saya tahu, fever adalah salah satu bentuk alarm tubuh yang memberitahukan bahwa ada yang salah dengan tubuh kita. Entah ada bagian yang infeksi, atau… I don’t have an idea, I’m not a doctor.

Hari minggu kemarin, saya diare, dan hari berikutnya saya mulai demam… puncaknya kemarin karena suhu badan saya mencapai 38 derajat lebih. Lalu hari ini saya ke klinik kampus. Dokternya juga tidak tahu saya sakit apa karena tidak ada symptom apa-apa. Jadi dokternya cuma memberi saya tablet obat.. namanya sih Loxonin 60 mg. Katanya diminum kalau saya demam saja. Kalau tidak demam, saya tidak boleh minum. Ini obat general anti-inflammation.

Kami semua masih belum tahu, apakah ini ada hubungannya dengan yang terjadi setelah surgery. Karena saya pernah mengalami hal yang serupa setelah 2 minggu surgery. I don’t know..

Hari ini saya tetap pergi ke lab. At least, I can do something at lab rather than staying at home. Di rumah, waktu akan berlalu lebih cepat and I just lay on my bed… nothing to do. I will feel useless.

So, no morning coffee today. But morning tea wasn’t a bad idea. Mungkin karena efek fever, saya pun jadi tidak nafsu makan. Dan quacker oat adalah menu makan siang saya hari ini, hehe.

20130912-141531.jpg

I just need to believe, everything’s gonna be alright.

~ Adrianna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s