I’ve learned a lot

Jadi ingat pesan salah satu post-doc sewaktu saya masih master student dulu. Kalau kerja dengan molecular research, kita harus memikirkan strategi minimal waktu, minimal tenaga, minimal biaya.

 

Waktu kita itu sangat penting, jadi sebisa mungkin, kita kerja tanpa buang-buang waktu. Efisien waktu. Kalau bisa, dalam sehari, kita bisa selesai beberapa kerjaan, dan hari selanjutnya kita bisa kerja yang lain. Lalu, me-manage tenaga kita. Kita juga harus bisa menggunakan tenaga kita untuk hal-hal yang penting. Jangan membuang energi untuk eksperimen yang gak jelas. Karena tenaga kita itu kunci dari eksperimen kita. Kalau kita sakit, capek, gak ada energi, gak bisa mikir… kita sama sekali gak bisa kerja. Maka dari itu sering prof saya bertanya, untuk apa kamu kerja ini? Kalau saya bisa memberi alasan masuk akal dan untuk eksperimen yang penting, beliau mengijinkan saya kerja. Dan yang terakhir adalah soal uang. Meskipun saya berada di laboratorium yang kaya, bisa menggunakan bahan-bahan dan alat-alat eksperimen dengan leluasa, belum tentu saya akan berada di laboratorium yang kaya raya selamanya. Itu juga yang prof saya ajarkan pada saya. Jangan berfoya-foya dengan bahan-bahan kimia. Sebisa mungkin, sekali kerja langsung perfect, gak perlu ngulang-ngulang eksperimen lagi. Maka dari itu, kalau kerja…sebisa mungkin kisa konsentrasi. Do the best, jangan asal-asalan. Karena itu salah satu penghematan bahan kimia. Itulah yang selalu diingatkan pada saya, itulah proses belajar menjadi researcher, scientist.

Hari ini, saya kembali berdiskusi dengan sensei lagi. Diskusi kali ini, membuat saya really exhausted. Mungkin ini sudah kesekian kalinya saya diskusi dan kali ini saya jenuh. Dan yang membuat saya look so idiot adalah, I made a simple mistake. Salah analisis. Seharusnya eksperimen ini berhasil, tapi saya bilang ke sensei gak berhasil.

Seperti biasa sensei bertanya pada saya, “What do you think?”

I don’t have any idea.

“Kalau kamu gak berhasil, kamu pasti bisa memperkirakan kesalahanmu.”

Tapi saya mengerjakan semuanya sesuai protocol yang ada. Dan saya kira, saya tidak membuat kesalahan. Tapi kenapa hasilnya bisa tidak sesuai dengan prediksi? Kenapa eksperimen saya gagal?

Akhirnya kami pun meneliti satu per satu step. Dan sensei saya bener-bener examine saya seperti undergraduate test. Tentang alur protocol/method-nya gimana… prinsip teori experiment method begaimana… dan saya menjawab sesuai text-book. Almost perfect. Tapi kenapa hasil eksperimen saya gagal? Secara teori, imposible kalau gagal karena ini eksperimen…yaah, bisa dibilang mudah untuk molecular work. Saya hanya membuat mutasi clon dan bahan kimia bisa dipakai secara instan dan tidak menghabiskan banyak waktu.

Sampai akhirnya sensei bilang, “Kamu tahu, kita melakukan kegiatan yang wasting time. Dari tadi saya hanya tanya metode, dan kamu jawab. Nothing scientific discussion.”

Ya, memang. Kami seperti mencari-cari alasan atau kemungkinan kenapa bisa gagal. Saya berusaha memberikan opini-opini, tapi lagi-lagi sensei defeat. “Kalau ingin mengubah protocol, apa tidak memikirkan kemungkinan malah nanti hasilnya gak karuan? Ini protocol dari perusahaan sudah diuji coba dan seharusnya kita pun gak ada masalah.” Lalu sensei kembali bertanya, “Lalu apa planmu? Mau ulangi lagi? Kalau mau ulangi tanpa modifikasi, kita akan mendapatkan hasil yang sama lagi. Percuma ngulangi lagi kalau method-nya sama.”

Seriously…. I really don’t have idea. I don’t know what should I do. And I feel depressed, because it’s just simple experiment and I’m just stuck. And sensei always asked, “What do you think?”

Kemudian sensei bertanya lagi, “Kamu yakin kalau hasil analisa sequence-mu gak ada masalah?”

“Saya belum analisa detail sih. Cuma surface saja.”

“Coba bawa ke sini…”

Dan saya membawa paper analisa saya ke meja sensei, dan saya melihat ulang hasil analisa saya, dan…. Oh, no… saya speechless.

“Kenapa? Ada masalah?’ tanya sensei.

“Sepertinya saya salah analisa. Ini bukan posisi sequence yang benar. Saya sedang mencari yang benar, tapi belum ketemu.”

“Heh? Coba lihat sini…” sensei terkejut. Dan beberapa saat kemudian… “Mutasi-mu sukses gitu looh…hahaha. Ini sequence-nya berubah.”

Sensei ketawa, dan saya tetap speechless.

“Semua teorimu benar… method-mu perfect. Tapi cuma salah analisa yang sepele aja… Hahaha.”

“Sumimasen… Gomenasai…” saya tidak tahu harus berkata apa selain kedua kata tadi.

I don’t know what I feel after that. I can’t feel anything. Not happy, not sad. I’m just lucky. I made wrong analysis, I think it’s failed, but succeeded. How if it’s opposite? It’s dangerous. So, I don’t feel relief… even, I know, I’ve learned a lot.

But now, I’m just tired and I won’t come to lab this weekend.

 

~ Adrianna

 

 

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s