summer holiday with old scientist

As I told you, today… since yesterday actually… many people take summer holiday, except me… and some people. Nuansanya bener-bener sepi dan… rasanya gak ada semangat kerja. Eksperimen… saya sedang stuck. Karena beberapa result yang saya order akan datang setelah liburan selesai. Sebenarnya saya harus belajar. Karena akan banyak diskusi bersama sensei, dan harus banyak teori yang harus saya kuasai. But… I’m not in the mood. Saya sebenarnya jenuh juga dengan research saya yang stuck ini. Seperti… I need fresh air. I need inspiration.

I think… I can’t work at noon. Because maybe here, in Japan, is hot… and high humidity. So it makes me tired. Recently, the temperature is 36-38 degree celcius in Osaka. And you know what, last monday… the temperature was almost 40 degree!

20130815-110353.jpg

So, selain saya melakukan paper work di depan komputer… saya membaca buku, haha. Saya menemukan ebook “What is Life”-nya Erwin Schrodinger. Awalnya saya tau tentang Erwin Schrodinger dari google yang merayakan ultah beliau 12 Agustus kemarin. Erwin adalah scientist ahli fisika, tetapi dia menggabungkan ilmu-ilmu fisika dengan science lain seperti biologi dan chemistry. Ya, beliau tertarik untuk belajar functional biological structure. Beliau juga peraih noble prize dan mungkin bisa disebut filsuf juga. Dalam buku-nya, ada hal yang cukup menarik. Di chapter pertama, ada judul “Why are atoms so small?” Dan jawabannya karena alat ukurnya adalah tubuh kita. Salah sendiri kenapa atom pake satuan ukur Angstrom, yang kalo di meter-kan sekitar 0.00000000001 m. Padahal single atom hanya berukuran 1-2A. Bagaimana kalau pertanyaannya adalah begini, “Why must our boies be so large compared with atom?” Haha, funny… and so philosophy. Beliau juga membahas bahwa untuk mengungkap mekanisme alam, mengungkap fungsi-fungsi yang ada dalam tubuh kita, kita butuh mempelajari bukan hanya satu ilmu. Semua ilmu itu saling berkaitan. Biology, chemistry, physic… dan tidak pantas seorang ilmuwan memisah-misahkan ilmu. Seorang ilmuwan biologi, untuk mengungkap suatu mekanisme secara akurat, tidak hanya butuh kualitatif analisis saja, functional study. Tapi butuh juga keakuratan sejauh mana mekanisme itu bekerja. Butuh calculation. Dan pendekatannya pada physic dan chemistry. Begitu juga ilmuwan physic, perhitungan secara matematika atau fisika belum tentu akurat. Tapi ‘mendekati’ akurat. Karena kalau sudah berbicara dengan data, kita akan membahas statistik, dan dalam ilmu statistik, pasti akan ada standar error. Dan tentu saja, yang kita ukur masih dalam skala kecil, bukan skala yang sebenarnya. MIsalnya kalau kita hanya mengalisa interaksi 1 atom… sedangkan dalam tubuh kita, bukan hanya 1 atom itu yang berperan, tapi interaksi antar atom, jumlahnya ‘a lot’ and so complex. So, the point is… kita sebagai scientist tidak bisa mengklaim sesuatu hanya berdasarkan satu sudut pandang saja. Science is sooo largeee… and nature is also sooo hugee. It’s Law of Nature.

Buku ini terbitan tahun 1944. Old book, huh? hehehe. I like old book. Saya juga sudah beli 2 buku Darwin, “The origin of species” (buku yang heboh karena teori evolusi beliau) dan buku “The Expression of the Emotions in Man and Animal”. Saya bersedia kalau suatu saat memberi kelas ‘science philosophy’…hehe. At least, saya akan memperkenalkan gaya berpikir scientist-scientist tua melalui buku-bukunya. Cuma ingin mengasah cara berpikir generasi muda… sejauh mana pemahaman science versi mereka.

20130814-211015.jpg 20130814-211441.jpg

Oh iya, saya juga nonton film berbahasa Jepang judulnya “Tenchi meisatsu” (Techi: the samurai astronomer). Jadi ceritanya tentang orang yang diangkat jadi samurai, dan tertarik dengan astronomi. Tertarik dengan bulan, bintang, matahari. Akhirnya dengan perubahan bulan, matahari, dan bintang… dia membuat kalender. Jaman segitu… jaman kuno… jam masih pake jam pasir, melihat arah matahari pake bayangan dari tongkat… jadi samurai astronomer dan tim-nya menentukan berdasarkan kalkulasi matematika, dan itu masih manual. Jaman segitu… mana ada internet, komputer, bahkan kalkulator. Batere aja masih belum ada. Ya cuma sebatas garis besar ceritanya paham. Selebihnya, karena pake bahasa jepang yang susah dan gak ada english subtitle, makanya gak seberapa paham juga, hehe.

Kalau berbicara tentang scientist masa lalu itu, menarik…hehe. Bagaimana cara beliau berpikir, atau bagaimana kehidupan mereka… is unpredictable. Makanya saya suka membaca brafi atau film-film yang based on true story. And you know, I am fan of Aristotle’s mind. Tau kan Aristotle… filsuf tua sekaligus ilmuwan paling tua?

That’s my summer story. (Ini juga kata-kata terakhir yang saya tulis di postcard untuk mr. vampire, hehe. Dia sekarang sedang pulang ke Tokyo, summer holiday juga)

~ Adrianna

 

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s