Brain attack

Diadaptasi dari kata ‘heart attack’… tapi karena brain saya yang sedang kacau dan saya pun tidak mengalami heart attack, maka saya punya istilah baru, ‘brain attack’, haha.

Pagi ini, saya kembali ‘not in the mood’ untuk pergi ke lab. Selain saya pusing (literally), saya juga merasa jenuh dengan paper-paper di meja saya. Masih banyak setumpuk paper yang harus saya pelajari. Belum lagi bertemu dengan sequencing-sequencing yang hanya ada huruf CATG… itu membuat saya bertambah pusing. Pokoknya I am not in the mood today.

Jadi ceritanya, akhir-akhir ini saya mengalami masa-masa stuck dalam research saya. Dan hal yang saya lakukan biasanya adalah saya kembali membaca reference-reference yang ada. Tetapi setelah saya coba membaca lagi, semua reference ‘hanya’ asumsi. Author hanya bilang, “might be’… atau “it indicated”… “presumably”, “predicted”…. dan artinya semuanya serba belum valid. Ini memang research susah. Semua orang bilang seperti itu. Sensei juga. Bahkan mr. vampire bilang, “Kenapa ini jadi topik phD-mu? Kamu tau, ini susah.” Iya, saya tau. Belum lagi, tidak banyak orang yang bisa saya ajak diskusi kecuali sensei, mr. vampire, crystal man, atau otosan. Kadang otosan pun angkat tangan. Saya tidak bisa merengek soal research ini. Mau mengeluh sama siapa coba? sensei? No way. Saya tidak ingin sensei give up dan melepaskan saya. I don’t want this happened to me.

Banyak researcher yang give up dengan research yang saya lakukan sekarang ini. Researchers heboh publikasi tahun 80-90an. Tapi tidak banyak publikasi di tahun 2000an. Maka dari itu, saya hanya mengacu reference lama dan apa tidak mungkin kalau data sebelumnya belum cukup akurat karena alat-alat yang kurang canggih?

Perkembangan science itu sangat cepat. Bisa jadi teori baru mengalahkan teori lama, itu hal yang wajar. Jadi ingat percakapan dengan sensei yang jadi supervisor otosan sewaktu beliau sekolah di Jepang dulu. Kita (para scientist) akan selalu merasa tidak puas karena masih banyak ilmu yang belum kita kuasai. Dan non sense kalau seorang scientist menganggap puas dan tidak perlu mencari ilmu lagi. Sampai kapan pun, seorang scientist akan terus mencari, bahkan sampai ajalnya.

And the end of the day…
I found morphine for my brain attack. Keluar sejenak dari aktifitas lab, menyiram tanaman-tanaman yang ditanam sensei, and sunset. The breeze and sunset are the best combination.

~ Adrianna

20130717-193238.jpg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s