Morning person

I am a morning person. Means, saya melakukan aktifitas-aktifitas saya mulai pagi hari dan akan berakhir pada waktu petang. Saya prefer untuk datang lebih pagi ke lab daripada harus pulang larut dari lab. I don’t want be an insomnia person again. Kerja hingga mid-nite dan bangun lebih siang, I don’t like that habit… even I did in the past.

But, now I meet an opposite-guy. Insomnia-guy. I called, mr. vampire. He’s a postdoc in my lab, always come afternoon and go home in early morning. See, he’s like vampire, isn’t he?

Ok, I’ll tell about him. Kemarin autumn dan saya sempat bercerita tentang postdoc yang di lab. Dan Autumn belum tau kalo saya menyebutnya mr. vampire…haha.

He’s 10 years older than me… I don’t know exactly the age is it, but I do know he reaches 40 because he always mentioned in his stories about “when I was like you, 10 years ago….”. Dia tidak mau memberitahu saya umurnya berapa, tapi dia tau umur saya. Yes, we’re talking a lot. Karena jika saya pulang larut dari lab, only he’s remained in the lab. Of course, because night is his work time. He also told me that he needs friend to talk, and it’s me… because I often stay until night in the lab. Simbiosis mutualisme, haha? Tetapi kami berada di bawah professor yang berbeda, sangat berbeda. Jadi di lab ini ada 2 professor yang saling berkompetisi. Saya berada di bawah naungan professor pemilik lab (2nd supervisor), sedangkan boss-nya mr. vampire adalah associate professor di lab ini. Jadi, mr. vampire tidak banyak berbicara banyak dengan professor saya, begitu pula saya. But, I’m fans of his professor. Perhaps, I ever mentioned before, I called Mozart sensei. Kalau professor-professor kami masih ada di lab, we pretend to not care each other. And we can have our time to talk after they go home. Funny, right? haha.

Kami berbicara banyak hal. Mulai dari tentang experiment kami… saling berdebat… dan dia bercerita tentang pengalaman-pengalaman research-nya, menunjukkan pada saya data-datanya yang telah dipublish di high class paper. Tahun ini dia berhasil published di Science! Experiment research dia… seperti sebuah story line. Dan dia menyimpannya rapi… sampai e-mail dari editor reviewer paper juga di-print dan disimpan. Pernah e-mail itu ditunjukkan pada saya untuk dibaca.

Selain tentang experiment, kami juga menjadi orang yang mengatur keberlangsungan kehidupan lab secara tidak langsung. Ada alat lab yang error, we’re trying to fix it. Ada yang gak beres, kami berusaha untuk membetulkan. I don’t know, dia selalu mengikut sertakan peran saya untuk membantu dia mengatur keberlangsungan kehidupan lab. Ya, mungkin karena hanya kami yang tinggal lebih lama di lab, haha. And sometimes, he looks like my boss…haha.

Dan, kami pun bercerita tentang kehidupan pribadi kami. He’s classic man-style, he likes movie, he likes to swim, he had a fiancee but now he’s single, he likes sweets and juice, he doesn’t like coffee, alcohol, and oily-food, he likes hard-music, he doesn’t have feeling about something cute, he doesn’t like to read thick book because he doesn’t have time to read it…hmm, apalagi ya? See, we’re talking a lot, aren’t we? Berawal dari cerita tentang hobby. I think japanese people usually are starting the conversation with “what do you like”-things. Kami nyambung dengan pembicaraan tentang movies. I like 90s movies. And I just knew that he’s movie’s freak. Dan dia mengaku kalau dia movie’s otaku…haha. Dia rela menghabiskan uang untuk kepuasan dia menonton film. Dan kami menyewa DVD di tempat penyewaan yang sama. Kalau ada film baru yang release, atau film baru di biskop, dia memberitahu saya. Tapi dia tidak suka horror movie, haha. Sama seperti saya, tapi dia gengsi banget untuk mengakui kalau takut.

Kadang selain di lab, kami bercerita di cafetaria tempat kami makan malam. Kami bertemu dia cafetaria dan duduk di meja yang sama. Dia bercerita tentang aktifitas di lab, dan saya bercerita tentang hal yang dialami sehari ini. Ada hal yang lucu, the end of year… cafetaria tutup… dan kami bingung mau makan dimana. Akhirnya dia mengusulkan untuk makan di sky building deket rumah sakit kampus. But he’s confusing. Because he still had experiment, dan antara pergi dan tidak. Tapi dia menyuruh saya untuk menunggu experiment-nya. Sebenernya saya sih gak peduli-peduli amat makan dimana karena saya lapar. I mean, if you can’t leave your experiment, just please let me go for dinner. Tapi akhirnya saya pergi sendiri ke hoka-hoka bento, haha. Dia seperti kecewa, tapi ya sudah lah… apa boleh buat. Dia cerita, biasanya the end of the year, dia biasa memanjakan diri dengan makan enak di restoran agak mahal. Dan mungkin dia mengajak saya untuk itu, haha.

For more than 1 year and half, I know him. Everyday (sometimes in weekend) I always meet him. But, sometimes he’s also annoying. Really annoying. Contohnya, kadang setelah kami bercerita… dia menceritakan cerita kami ke junior kami. He’s like know me so well. Oh, I don’t like it. Dia cerita tentang film-film favorite saya… saya suka musik apa… bahkan how’s the struggle of my experiment. Jadi kalo dia annoying, biasanya I ignore him. And, maybe he knows. And he starts to have conversation with me…haha.

We had bad and good time together, but we’re different person. I like morning, and he likes night.

~ Adrianna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s