Tea party

Kemarin…di saat saya mengalami mind stuck dengan experiment…tiba-tiba sensei associate prof dari lab aseli saya (lab crystal) mengirim saya email.
“Hari ini jam 6 sore ada tea party, kalo ada waktu datang ya. Tempatnya di 1st floor di ruang santai institute yang ada vending machine minuman-nya”

Sensei itu memang sering mengajak saya untuk tea party. Awalnya sensei itu mengirim saya email untuk menanyakan tentang budaya indonesia atau korea. Beliau bilang, beliau suka sekali mengetahui budaya-budaya di dunia. Dan akhirnya beliau mengajak ngopi bareng di ruang santai di lab karena mungkin lebih enak ngobrol langsung daripada ngobrol lewat email. Aneh sih memang, sama-sama di lab crystal tapi ngobrolnya lewat email, haha. Maka kami pun ketemuan, sensei ngajak senior-senior post-doc, anak master student, dan cewe 1st year phd. Karena saya pas itu baru datang ‘berlibur’ dari indonesia, sekalian aja saya bawa kripik buah-buahan indonesia (ada nangka, pisang, sirsak, etc) karena di jepang pasti gak ada buah-buahan tropis…dan saya bawa kopi luwak! Haha. Saya ceritain gimana proses kopi luwak, mahalnya kopi luwak…dan itu cukup entertaining untuk jadi bahan obrolan ngopi sore sama orang lab, hehe. Saya juga ngasih omiyage (oleh-oleh) wayang kulit pandawa kecil buat sensei. Sengaja saya pilih wayang kulit, soalnya biar ada ceritanya. Jadi biar lebih omosiroi (interesting) aja..haha. Dan sebelum ngasih ke sensei, of course saya belajar tentang cerita wayang dulu di internet..haha.

Dan yang kemarin… Ternyata acara ‘Tea Party’-nya gak bersama orang-orang intern lab, tapi sama orang-orang lain lab di institute. Jadi ada orang administrasi institute, ada tehnichian lab, ada sensei lain, ada student phd lain, ada postdoc, ada researcher IT yang ngurusin data-base protein juga. Dan ternyata temen dari Belanda (dia researcher IT yang umurnya sama dengan saya) juga datang. Jadi foreignernya temen Belanda itu dan saya doang. Sengaja sensei mengundang kami untuk belajar japanese conversation..haha. Karena kami dari field yang berbeda-beda, kami bisa jadi mengetahui banyak hal yang tidak kami ketahui (bukan ngomongin orang). Misalnya, ada lab yang selalu kerja dengan tikus…dan tentu saja lab lain tidak, lalu lab yang kerja dengan tikus kasih tau gimana cara bunuh tikus. Atau ada di lab yang pinter gambar dan biasanya gambar bagian-bagian cell, dia ngasih tau gimana kerja ilustrator…mulai dari ngelukis, trus scan hasil lukisan, dan photoshop. Yang paling interesting, saat topiknya adalah air steril yang ada di lab. Air steril yang di lab biasanya pakai milli-Q water, prosesnya melalui penyaringan berkali-kali sehingga airnya bener-bener steril, ga ada ion…ga ada bakteri…sooo sterile. Dan ternyata air itu tidak boleh diminum. Kami sering mendengar itu, milli-Q tidak boleh diminum, tapi kenapa tidak boleh diminum kami gak tau.
Lalu sensei berceletuk, “Kita ini scientist tapi hal simple begini gak tau juga jawabannya.”
Lalu semua tertawa.
Kemudian ada yang respon, “Gimana kalo dicoba minum?”
Sensei jawab, “Setelah nyoba minum, dan dicek lewat CT-scan, terus ada yang aneh…dan alasannya gara-gara nyoba minum milli-Q. Lucu kan? Haha.”
“Ya jangan dicoba dengan manusia, sensei. Coba dengan ikan…atau tikus?”
Dan akhirnya nyambungnya ke topik ‘pembunuhan tikus’…hehe.
My friend and I as foreigner…of course tidak kalah omosiroi, karena sensei juga nanyain kami tentang culture di negara kami masing-masing, tapi harus dengan japanese..haha. Di saat saya kesulitan menyusun grammar japanese…atau gak tau japanese vocabulary-nya…dan mencoba mikir dengan sekuat tenaga seolah ingin menjelaskannya in english, sensei cuma berkomentar, “gambaru!” Hahaha. Gimana gak susah, nanyainnya juga aneh-aneh sih. Nanya kapan saya pake jilbab, kenapa pake jilbab, kenapa jilbab saya selalu item dan modelnya sama. Mungkin yang bikin penasaran bukan hanya untuk orang japan adalah kenapa jilbab saya selalu item. Jawabannya simple…jilbab item itu match untuk pake baju apapun..hahaha. Dan mendengar jawaban itu, orang japan juga ketawa. Ya iyalah, expectation mereka mungkin akan ada jawaban yang memang mengharuskan saya harus mengenakan jilbab item. Padahal just subjective reason aja sih, hehe.

Ya, bahasa itu penting, karena bahasa itu alat untuk berkomunikasi. Untuk bisa survive di suatu negara, untuk bisa mengenal negara yang kita tempati, kita harus bisa berkomunikasi dengan bahasa mereka. Lucky you, if you are living in place which is speaking english everyday. At least, you don’t need to learn any foreign languange. Tapi kalau tinggal di Japan yang bahasanya bukan english, it’s better if you learn their languange. Just for make you more friendly with them…make our conversation more natural, more comfortable. If you can make comfortable conversation with them, you can know all about japan well. Trust me. Dan mungkin saya adalah sebagian orang yang bisa dikatakan lucky or unlucky…karena selama 5 tahun terakhir ini saya tinggal di 2 negara berbeda dengan bahasa yang berbeda-beda pula. Efeknya saat ini saya bisa bahasa indonesia, english, japan, korea. And sometimes, they are mixing in my brain…of course it made me confused.

~adrianna

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s