Kursi dan Sunset di Ohashi Campus

Dear, Adrianna.

I didn’t reply your message on Path, because i wrote this one. Hahaha. Matte kudasai!

Hei, besok sudah masuk akhir pekan lagi. Time is running so fast and killing me softly. Apeu.

Iya, tidak terasa sejak hari Senin saya berjibaku dengan ratusan data yang harus saya selesaikan. Dan, alhamdulillah, beberapa menit yang lalu saya sudah menyelesaikannya. Capek? Tentu. Bosan? Lumayan. Bingung? Dikit. Puas? Banget! Sejak hari Senin saya seolah-olah pacaran dengan laptop, HD external, kamera, dan kunci experimental house yang menjadi tempat saya bersemedi menyelesaikan data-data ini. Di semester ini saya harus mengambil dua mata kuliah ; Physiological Anthropology dan Advanced Scientific English. Dan tiap minggu ada aja tugas dan report dari tiap sensei. Jadinya, saya sering kelabakan sendiri membagi konsentrasi antara kuliah, data, tugas, dan pacar. Halah.

Tapi, tidak ada hal-hal yang harus didramatisir di dunia ini. Sepintar-pintarnya kita saja menyiasati kesibukan dengan memasukkan beberapa aktifitas yang kita sukai di antara kesibukan itu. Ribet ngetiknya :D Dan itu saya lakukan di sela-sela kesibukan minggu ini.

Saat ini di Jepang sudah memasuki musim panas. Masih musim semi sih, tapi matahari udah panas dan terik. Udah berasa seperti di Indonesia. Jadi pastinya matahari terbenam juga tidak jauh beda dengan di Indonesia. Karena rasa cinta saya terhadap sunset, setiap jam 5.45 sore (fyi, jadwal sholat magrib :  jam 7an) saya sudah meninggalkan ruangan untuk sejenak beristirahat di kursi favorit saya, di depan lapangan baseball, dan persis di samping lapangan tenis. Ada beberapa kursi yang bisa digunakan untuk menonton pertandingan atau sekedar menggalau seperti yang saya lakukan. Hahaha. Bukan galau kali ya, tapi beristirahat sejenak. Kurang lebih sejam saya gunakan waktu untuk istirahat. Sambil menikmati kopi atau minuman apapun yang saya beli, roti atau cemilan lainnya, dan membaca buku. Tapi dasarnya saya orangnya pemikir, terkadang di sela-sela istirahat berkualitas saya itu, saya masih saja mikirin bagaimana kelanjutan data saya ya. Bagaimana grafik dan analisis statistiknya setelah selesai diolah di KineAnalyzer. Tapi kalau pikiran seperti itu datang, saya cepat-cepat mengalihkan pikiran sambil menikmati bunga-bunga yang akan bermekaran di sekitar kursi favorit saya.

Nah, ceritai ini mau dibawa kemana? Ya gak kemana-mana sih. Hahaha. Saya cuma membayangkan ketika Ramadhan besok tiba, ditengah musim panas yang lagi panas-panasnya, dan bertepatan dengan masuknya jadwal jikken (experiment) saya untuk semester ini, dan tentu saja data-data yang baru saja saya selesaikan ini harus dianalisa kembali. Apakah saya mampu meluangkan waktu untuk istirahat di kursi itu? Apakah saya bisa menikmati kembali angin sepoi-sepoi di sore hari? Ahh, membayangkannya saja saya sudah bingung.

Bekerja sendiri seperti ini memang butuh kesabaran. Butuh kekuatan juga kok, tapi kesabaran menurutku adalah kunci segalanya. Kalau kita sudah bisa masuk ke fase sabar, maka tanpa kita memintapun, kekuatan itu akan ada dengan sendirinya. Tsah!

Udah ah. Saatnya kembali ke rumah. Yang ingin melihat kursi istirahat saya di kampus sambil melihat sunset, ini nih :

ImageImage

I know, Adrianna. You love sunset too. Please show me the beautiful sunset that you have *Nantang* hahaha.

cheers,

-autumn-

PS : Tulisan ini juga ada di blog pribadi saya. Daijoubu ne.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s